Tech & Auto

Tino Sidin, Sosok Di Google Doodle Hari Ini

Tino Sidin, Sosok Di Google Doodle Hari Ini

Ada yang sedikit berbeda ketika anda mengakses halaman Google hari ini. Ketika membuka situs pencarian google.co.id, anda kan disodorkan dengan tampilan pria berkacamata dengan memakai topi lukis. Pria tersebut terlihat memegang alat tulis sambil mengatakan “Bagus”. Terlihat juga ilustrasi beberapa anak yang sedang menggambar di sampingnya. Ia adalah Tino Sidin atau yang akrab dipanggil Pak Tino. Hari ni merupakan ulang tahunnya yang ke-95.

Pria yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini merupakan seorang pelukis, namun lebih populer sebagai seorang guru menggambar. Lahir pada 25 November 1925, ia mulai menitih kariernya sebagai guru gambar di Yogyakarta pada usia 20 tahun.

Tino Sidin Tampil Di TVRI

Pada tahun 1969, Tino Sidin mulai tampil dan mengisi acara “Gemar Menggambar” yang disiarkan di TVRI lokal Yogyakarta. Barulah pada tahun 1978 hingga 1989, acara “Gemar Menggambar” yang ia pandu ditayangkan secara nasional dan menjadi salah satu tontonan wajib bagi anak usia sekolah dasar. Lewat acara yang ditayangkan setiap Minggu sore inilah dirinya mengajarkan trik-trik menggambar yang mudah. Gambar yang ia buat selalu dimulai dari garis-garis lurus dan melengkung yang kemudian dipadukan. Layaknya seorang guru, Tino Sidin mendorong anak didiknya untuk tidak takut membuat kesalahan saat sedang belajar menggambar. Tidak jarang ia mengucapkan kalimat khasnya yaitu “Ya, bagus”, untuk memberi pujian atau komentar kpada hasil gambar anak-anak.

Dijadikan Nama Museum

Untuk mengenang semangat dan sepak terjangnya maka dibangunlah Museum Tino Sidin. Museum yang juga ditujukan untuk merawat koleksi-koleksinya ini dibuka pada 4 Oktober 2014. Museum yang menampilkan memorabilia Tino Sidin tersebut dibuka oleh Prof. Mohammad Nuh yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Museum yang didirikan di bekas tempat tinggalnya ini berada di Jl Tino Sidin 297, Kadipuro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Pembangunannya sendiri dilakukan tanpa merubah desain rumah tersebut. Hanya saja ada penambahan beberapa ruangan yang saat ini digunakan sebagai saggar dan perpustakaan.

Kisah Pak Tino Sidin Pinjam Uang Kepada Presiden

Salah satu peninggalan Tino Sidin yang tersimpan di museum tersebut adalah sebuah kuitansi pinjaman uang untuk penyelesaian rumah sebesar Rp 7 juta. Tertulis pula jangka waktu pinjaman selama setahun tanpa bunga dan ditandatangani oleh Pak Tino. Yang menarik, kuitansi bertanggal 20 November 1981 tersebut ditandangani oleh pemberi pinjaman yaitu, Presiden Soeharto.

Menurut arsitek Bambang Eryudhawan, pinjaman tersebut bermula saat Pak Tino diundang ke rumah Presiden Soeharto. Ia diundang untuk mengantar Agus Prasetyo yang merupakan siswa TK asal Probolinggo yang menjadi juara lukis di Tokyo.

Saat berpisah, Pak Tino menyisipkan sebuah kertas ke Pak Harto yang bertuliskan ingin jumpa pribadi. Barulah pada November 1981 tersebut ia bisa bertemu secara pribadi dengan Presiden Soeharto. Kemudian, ia mendapat pinjaman tersebut yang digunakan untuk uang muka kredit rumah.

Ia juga tercatat sebagai kepala bagian poster di kantor penerangan Jepang yang berada di Tebing Tinggi. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Polisi Tentara Divisi Gajah Dua Tebingtinggi dan juga seorang guru gambar di SMPN Tebingtinggi. Pada tahun 1945 ia bersama Ismail Daulay mendirikan ASRI (Angkatan Seni Rupa Indonesia).

Tino Sidin juga kerap menelurkan karya lukis yang terinspirasi dari kehidupan sehari-haru, salah satunya adalah “Empat Anak Main”. Lukisan tersebut terinspirasi dari empat putrinya sendiri. Ia wafat saat usia 70 tahun pada 29 Desember 1995.

To Top