Tech & Auto

WhatsApp Umumkan akan Blokir 2 Juta Akun Untuk Cegah Penyebaran Berita Hoax

Whatsapp Kampanye Jari Pintar ABS

Memang benar bahwa teknologi semakin hari semakin canggih dimana hal tersebut bisa memberikan dampak negatif dan positif. Menyebarkan pesan melalui sebuah aplikasi adalah salah satu bentuk pemanfaatan teknologi. Namun, hal itu seringkali disalahgunakan oleh banyak orang. banyak orang yang sering menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya atau yang disebut dengan hoax.

Saat ini, berita hoax masih menjadi perhatian masyarakat di dunia, salah satunya Indonesia. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, jumlah pengguna media sosial mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut beriringan dengan naiknya jumlah peredaran berita hoax yang ada di Indonesia.

Untuk memerangi hal tersebut, WhatsApp telah meluncurkan kampanye “Jari Pintar ABC” yang berguna untuk memberikan edukasi dan literasi secara digital kepada pengguna. ABC sendiri merupakan singkatan dari tiga langkah dalam melawan hoax yaitu “Amati konten pesan, “Baca sampai habis”, dan “Cek sumber informasi”.

Dalam kampanye yang disiarkan secara virtual tersebut, WhatsApp melakukan kerja sama dengan Mafindo terkait pengecekan fakta terkait berita hoax yang tersebar di media sosial. Menurut data dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia atau yang disingkat dengan Mafindo menyebutkan bahwa di tahun 2020 ini ada sekitar 2000 berita hoax yang tersebar, baik itu isu tentang Covid-19, politik, maupun sosial.

WhatsApp telah melakukan pemblokiran kira-kira sekitar 2 juta akun yang dicurigai telah melakukan aktivitas mencurigakan untuk mencegah tersebarnya berita hoax atau pesan-pesan yang buruk. Akun-akun yang telah diblokir nantinya tidak bisa digunakan kembali sehingga pengguna yang mengalami pemblokiran harus membuat akun dengan nomor baru.

Hal itu seperti yang dikatakan oleh Sravanthi Dhev, Direktur Komunikasi WhatsApp APAC dalam konferensi pers WhatsApp secara virtual dengan tema “Hempaskan Hoax Semudah ABC: Jari Pintar untuk Negeri, Kamis (19/11/2020) mengungkapkan bahwa Pemblokiran akun tersebut bersifat permanen, artinya pengguna tidak menggunakan WhatsApp dengan akun yang sama. Mereka haru buat akun baru agar bisa menggunakan kembali WhatsApp.

Akun-akun yang telah diblokir tersebut didapatkan dari hasil identifikasi WhatsApp yang menggunakan Machine Learning. Penggunaan alat tersebut untuk mengidentifikasi akun-akun yang menyebarkan pesan secara massal. Selain itu, WhatsApp uga mendapat informasi mengenai akun-akun yang telah diblokir dari laporan pengguna lainnya. Dengan adanya fitur ini, WhatsApp akan menerima kemudian memproses laporan akun tersebut sebelum melakukan pemblokiran pengguna yang teridentifikasi melakukan penyebaran pesan yang tidak benar atau hoax.

Lebih lanjut lagi beliau mengatakan bahwa pada dasarnya aplikasi WhatsApp adalah salah satu platform untuk chatting yang bersifat personal. WhatsApp tidak dirancang untuk layanan broadcast messages ke berbagai lawan bicara. Di WhatsApp memang ada grup dengan rata-rata anggotanya sangat sedikit. Biasanya dalam grup, rata-rata jumlah anggotanya di bawah sepuluh orang. Jumlah tersebut adalah untuk grup bersifat non formal atau grup yang hanya dibuat untuk percakapan biasa.

WhatsApp melakukan sejumlah cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyebaran berita hoax di media sosial diantaranya dengan melakukan pembatasan pesan. Apabila nantinya terdapat akun yang menyebarkan pesan dari pengguna lain, maka WhatsApp akan memberikan label pada pesan tersebut sebagai “Pesan Diteruskan”.

Sementara itu, untuk mengatasi informasi-informasi yang tersebar melalui WhatsApp, Sravanthi mengatakan bahwa sejak tahun lalu, WhatsApp sudah membatasi setiap akun dalam menyebarkan pesan kepada pengguna lain. Setiap pengguna hanya bisa mengirim lima pesan yang diteruskan, baik melalui percakapan pribadi maupun percakapan di grup.

Dengan demikian, jumlah pesan yang diteruskan mampu berkurang hingga 25%. Di sini pengguna bisa dengan mudah mengetahui mana pesan ang telah diteruskan satu kali dan mana pesan yang sudah diteruskan berkali-kali. Pengguna lain dapat mengetahuinya dengan melihat label yang diberikan berupa dua ikon sebagai penanda. Apabila pesan yang teruskan dari pengguna lain baru disebar satu kali, maka ikon tersebut akan menampilkan panah tunggal. Sedangkan apabila pesan tersebut telah diteruskan lebih dari dua kali bahkan berkali-kali, maka WhatsApp akan melabeli chat tersebut dengan panah ganda.

Dengan adanya pembatasan ini tentunya dapat menurunkan tingkat penyebaran berta hoax di media sosial sebanyak 70%. WhatsApp telah berkomitmen dalam memberantas isu-isu yang muncul yang tidak diketahui kebenarannya. Hal itulah yang menyebabkan pihak WhatsApp terus menerus melakukan pembaruan fitur-fitur yang dimiliki agar tetap bisa berkontribusi terhadap permasalahan sosial ini.

Nah itulah informasi terbaru dari WhatsApp yang akan melakukan pemblokiran 2 juta akun untuk mencegah tersebarnya berita-berita hoax di media sosial. Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan dalam kampanye “Jari Pintar ABC” secara virtual. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini yang mana banyak sekali berita-berita yang belum tentu benar adanya tersebar di media sosial sehingga membuat rasa panik masyarakat kian menjadi.

Semoga apa yang diulas di dalam artikel ini bermanfaat bagi kalian terutama pengguna WhatsApp harus berhati-hati dalam meneruskan pesan yang didapatkan. Sebelum meneruskan ke pengguna lain, sebaiknya cek terlebih dahulu apakah berita tersebut memang benar adanya atau hanya bualan dari orang-orang yang hanya mencari sensasi ataupun orang iseng. Selamat membaca.

To Top