Travel

Mengenang Peristiwa Krakatau di Lampung

Mengenang Peristiwa Krakatau di Lampung

Apa yang ada pikirkan ketika mendengar kata ‘Lampung’? Mungkin yang terlintas di kepala Anda adalah gajah, hewan mamalia yang hampir punah, yang menjadi khasnya. Tebakan Anda memanglah benar, Lampung seringkali identik dengan gajah, tapi kali ini kita tidak membahas Gajah Lampung saat ini.

Tahukah Anda bahwa Lampung merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi penduduk Indonesia, terutama penduduk dari Pulau Jawa? Transmigrasi memang program yang tepat untuk memeratakan populasi penduduk di Jawa yang sudah sangat padat.

Namun, program transmigrasi bukan tidak memiliki dampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah nilai-nilai kebudayaan asli yang tergerus oleh nilai-nilai kebudayaan yang baru.

Untuk mengatasi itu, Pemerintah Provinsi Lampung mengadakan berbagai festival guna memperkenalkan kebudayaan asli Lampung kepada generasi muda dan kepada para wisatawan. Salah satu festival tahunan yang menjadi sarana promosi kebudayaan Provinsi Lampung adalah Festival Krakatau.

Sebenarnya, sesuai dengan namanya, awal mula diadakannya Festival Krakatau ini untuk mempertegas status kepemilikan wilayah gunung ini serta untuk memperingati peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Seperti kita ketahui, meletusnya Gunung Krakatau sempat menghebohkan dunia dan memakan banyak korban jiwa. Peristiwa tersebut sangatlah bersejarah dan berarti bagi masyarakat Lampung.

Seiring berjalannya waktu, festival ini digunakan sebagai sarana promosi, utamanya potensi pariwisata Provinsi Lampung. Festival Krakatau sudah diadakan sejak tahun 1990 dan seringkali dihelat padar akhir tahun. Tempat pelaksanaannya pun selalu berpindah alias tidak sama setiap tahunnya.

Rangkaian acara Festival Krakatau setiap perayaannya selalu berbeda. Namun ada beberapa acara yang sama setiap tahunnya seperti pemilihan Muli Mekhanai, aneka lomba, pameran dan parade busana kain tapis.

Muli Mekhanai adalah pemilihan sepasang muda-mudi seperti Abang-None Jakarta. Muli adalah sebutan untuk pemuda perempuan, sedangkan Mekhanai adalah sebutan untuk pemuda laki-laki. Nantinya ada serangkaian proses pemilihan hingga seleksi sehingga dipilih satu pasang Muli Mekhanai terpilih setiap tahunnya.

Di Festival Krakatau juga terdapat stand-stand kuliner khas Lampung seperti kopi Lampung, keripik pisang, seruit, dan tempoyak. Seruit adalah makanan olahan dari ikan yang disajikan dengan tempoyak. Tempoyak terbuat dari buah durian yang difermentasikan. Mungkin Anda bertanya mengapa kripik pisang dijadikan kuliner khas Lampung, padahal di daerah lain di Indonesia juga terdapat kripik pisang. Rasa dari kripik pisang khas Lampung ini berbeda dari daerah lain. Cemilan ini mempunyai cita rasa khas yang tidak ada yang menandingi. Anda dijamin ketagihan setelah mencobanya sekali. Kripik pisang menjadi oleh-oleh khas Lampung yang paling diminati.

Selain stand cemilan, juga ada stand oleh-oleh lainnya. Salah satu yang terkenal adalah kain tapis. Kain tapis merupakan kain tradisional Lampung. Kain tapis dibuat dari rajutan benang emas dan benang merah yang memiliki berbagai macam motif. Kain tapis digunakan sebagai pakaian adat dari suku Pepadun dan suku Pesisir yang digunakan sebagai pakaian pernikahan, kemudian berkembang dan digunakan untuk acara-acara kebudayaan.

Festival Krakatau menjadi event yang paling meriah dan dinanti-nantikan. Mengapa? Hal itu dikarenakan ketika event tahunan ini akan diadakan, ada banyak baliho, banner, dan sejenisnya yang mempromosikan festival tersebut. Pemerintah dan masyarakat sangat antusias untuk datang dan menyaksikan festival ini.

Ingin tahu seperti apa kemeriahan Festival Krakatau? Bagi Anda yang memiliki rencana liburan di Lampung, festival ini wajib Anda kunjungi. Anda harus melihatnya dengan mata kepala Anda sendiri. Selamat mengenali kebudayaan Lampung!

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top