Travel

TORAJA : Kala Kematian Tiada Memisahkan

Tana toraja

Seperti saya, mungkin Anda adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak terlalu menyukai pantai atau gunung sebagai tujuan berlibur dan memilih kota atau daerah yang meskipun mungkin tidak memiliki pantai dan gunung yang elok namun memiliki budaya atau adat istiadat yang unik. Negara kita, memiliki segalanya. Lautan yang luas dan cantik, pegunungan serta hutan tropis yang eksotis disertai budaya masyarakatnya yang bukan hanya beragam namun memiliki keunikan tersendiri. Salah satu dari terbilang ‘harta’ milik negara kita, tersebutlah Suku Toraja. Sebuah suku dimana tempat tinggal mereka sangat ingin saya kunjungi.

Suku Toraja mendiami wilayah pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Mereka tersebar di wilayah Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Mamasa. Suku ini memiliki warisan budaya yang masih bertahan hingga kini dengan keistimewaan yang luar biasa, diantaranya adalah ukiran kayunya yang abstrak dan geometris memiliki keteraturan tersendiri hingga kemudian perhitungan struktur matematika dari ukiran ini dipelajari pada ilmu ethnomatematika. Ethnomatematika adalah pengetahuan atau juga konsep spontan yang dapat mempengaruhi akuisisi konsep formal matematika yang dipelajari di sekolah. Selain itu, jangan dilupakan bahwa suku ini memiliki rumah adat unik yang disebut dengan Tongkonan yang memiliki tiga buah jenis dengan fungsinya masing-masing. Tongkonan layuk sebagai tempat kekuasaan tertinggi dapat diartikan juga sebagai pusat pemerintahan, Tongkonan  pekamberan, ditinggali anggota keluarga yang memiliki wewenang penting atau keluarga kaya, dan tongkonan batu bagi keluarga biasa. Saat ini klasifikasi Tongkonan ini sudah semakin berkurang seiring banyaknya warga biasa yang sukses di daerah lain lalu kembali ke desanya dan membuat Tongkonan yang besar. Lalu yang paling fenomenal dan yang lekat dalam ingatan banyak orang adalah adat istiadat Toraja yang terkait dengan kematian dan kubur.

Wilayah tempat mereka berdiam memang seringkali disebut dengan Negerinya Orang Mati Yang Hidup dikarenakan beberapa adat istiadatnya seperti : terdapatnya upacara adat kematian yang disebut Rambu Solo’ dimana seorang yang meninggal dunia masih diperlakukan sebagai orang yang masih hidup sampai dengan dilakukan upacara penyempuraan kematian ini. Lalu juga ada ritual bersih kubur atau Ma’nene yang dilakukan sebelum masa panen karena dianggap membantu melancarkan proses panen dimana mayat seseorang dikeluarkan dari peti, dibersihkan dan kemudian diberi pakaian baru sebelum dikembalikan lagi ke peti. Yang juga sempat menghebohkan adalah tradisi mayat berjalan yang dahulu dijalankan oleh penganut kepercayaan aluk todolo yang kabarnya tidak lagi dilakukan saat ini setelah masuknya pengaruh agama Kristen dan Islam. Yang pasti, kuburan masyarakat suku Toraja memiliki beberapa bentuk dan makna yang unik. Kali ini saya memang tidak ada membahas lebih mendalam soal adat Rambu Solo’, Ma’nene atau Aluk Todolo, tetapi bentuk kuburan dan maknanya juga merupakan peninggalan unik yang dapat kita kunjungi sewaktu-waktu saat kita berada di wilayah suku Toraja. Berikut ini adalah beberapa jenis bentuk pemakaman yang dimiliki oleh suku Toraja :

PEMAKAMAN PADA DINDING BATU

Merupakan kompleks pemakaman tradisional yang terdapat pada dinding batu yang disebut Liang dimana liang kubur dipahat pada dinding batu dimana pada bagian depan makam diletakkan Tau-tau atau patung replika dari orang yang meninggal yang merupakan personifikasi dari orang tersebut. Pemilihan bahan untuk Tau-tau tidak boleh sembarangan, demikian juga yang mengerjakannya harus orang yang dekat dengan orang yang meninggal tersebut. Melalui patung ini interaksi antara yang hidup dan mati dianggap masih tetap berlangsung, dikarenakan Tau-tau dianggap menampakkan keterikatan yang langgeng antara orang yang hidup dengan orang yang telah meninggal. Semakin tinggi posisi liang kuburnya, maka semakin tinggi status orang tersebut di dalam masyarakat. Ada kepercayaan masyarakat disana yang menyebutkan bahwa semakin tinggi posisi liang lahatnya maka semakin dekat ia dengan sang penciptanya. Proses pembuatan satu buat pemakaman batu ini memerlukan keahlian khusus dalam memahat batu. Proses pembuatan satu liang batu sebesar sekitar 2X3 meter hingga ada yang sampai 4 meter dapat menghabiskan waktu hingga beberapa bulan lamanya serta tentu saja biaya yang tidak sedikit.  Beberapa tempat pemakaman seperti ini dapat Anda jumpai pada obyek wisata Lo’ko Mata, Lemo (dinamai Lemo karena bentuknya yang mirip dengan jeruk limau) serta makan raja-raja yang terdapat di Suaya.

PEMAKAMAN DI DALAM SEBUAH GOA

Sebuah pemakaman tradisional dimana jenasah disimpan di dalam sebuah goa. Di pekuburan ini kita dapat melihat didalam kepekatan goa tulang-tulang manusia berjejer juga peti mati diselipkan pada sudut-sudutnya. Pemakaman semacam ini dapat Anda jumpai pada Londa dan Tampang Allo Sangalla serta pada beberapa tempat yang lain

PEMAKAMAN GANTUNG

Jenis pemakaman seperti ini biasanya berdampingan dengan pemakaman goa. Oleh sebab itu pemakaman gantung juga dapat Anda temui di Londa dan Tampang Allo selain juga terdapat di Kete Kesu dimana jenasah yang telah dimakamkan selama ratusan tahun bersemayam disana. Pada pemakaman jenis ini, jenasah disemayamkan pada sebuah erung atau peti mati khas Toraja, lalu digantungkan pada tebing batu.

PEMAKAMAN PADA SEBUAH POHON

Kali ini pekuburan tradisional unik yang disebut passilliran ini merupakan pekuburan bayi yang terletak pada sebuah pohon tarra yang memiliki diameter antara 80-100 cm. Pemilihan pohon tarra sebagai pemakaman bayi dikarenakan pohon ini memproduksi banyak getah yang dianggap sebagai pengganti ASI atau air susu  ibu. Pohon ini dilubangi dengan arah lubang mengarah pada tempat tinggal anggota keluarga, kemudian bayi yang sudah tak bernyawa diletakkan pada lubang tersebut sebelum kemudian lubang ditutup dengan anyaman ijuk dan dipaku dengan erat. Bayi yang dimakamkan disini harus yang baru berusia kurang dari 6 bulan. Bayi yang dimakamkan disana tidak dibungkus dengan kain, langsung diletakkan di dalam lubang pohon yang dimaknai sebagai kembali ke rahim ibundanya dengan maksud menyelamatkan bayi-bayi yang akan dilahirkan kemudian. Seperti juga pemakaman goa, letak kuburan bayi ini juga menyesuaikan strata sosial masyarakat keluarganya. Semakin tinggi letaknya maka semakin tinggi strata sosialnya. Pemakaman pohon semacam ini terdapat pada beberapa tempat di Toraja, namun yang cukup ternama adalah obyek wisata Kambira Baby Grave yang terletak di kecamatan Sangalla.

PEMAKAMAN PATANE

Pemakaman kayu Patane merupakan pemakaman yang paling umum dan dapat dijumpai di banyak tempat di Toraja. Pemakaman kayu ini berbentuk anek rupa seperti Tongkonan, rumah biasa, atau berbentuk seperti sebuah peti raksasa. Pemakaman jenis ini dapat menghabiskan biaya hingga jutaan bahkan miliaran rupiah tergantung dari kemewahan bangunan Patane tersebut.

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top