Travel

Tyto Alba: Predator Kebanggaan Tlogoweru

Tyto Alba: Predator Kebanggaan Tlogoweru

“Sesungguhnya, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

Pepatah tersebut mungkin menjadi pedoman masyarakat Desa Tlogoweru, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, untuk memperbaiki nasib menjadi desa yang penuh potensi perihal kekayaan alam dari hasil pertaniannya.

Desa yang terletak di Kecamatan Guntur, Kebupaten Demak, tersebut merupakan wilayah potensial dalam hasil pertanian, tapi pada masa lalu, semua itu tak maksimal. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor.

Banjir saat musim penghujan, kekeringan saat musim kemarau, dan masalah lain yang menjadi musuh utama masyarakat Tlogoweru, yaitu hama tikus. Hewan pengerat bergigi tajam ini merusak tanaman padi jauh melebihi kebutuhan makanannya.

Menurut Kepala Desa Tlogoweru, Soetedjo, banyak sekali petani yang mengalami gagal panen akibat hewan pengerat tersebut. Dengan tatapan yang serius, ia juga menceritakan bagaimana tikus sawah bisa membuat desanya sengsara. Tikus merupakan hewan yang mudah dan cepat berkembang biak, bahkan jumlah populasi hama tersebut bisa mencapai 2048 ekor dalam satu tahunnya. Fakta tersebut sontak membuat pasti akan membuat kita mengernyitkan dahi dan merasa geli, terlebih perihal bagaimana bisa warga Tlogoweru mengatasi ribuan hama tersebut.

Hama tikus sendiri bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Tlogoweru. Hewan pengerat tersebut, kata Soetedjo, sudah menyerang Desa Tlogoweru sejak tahun 1960-an dan semakin tak terkendali di awal tahun 1980-an. Pelbagai usaha dalam melakukan pengendalian dan pembasmian hama tikus sudah dilakukan oleh warga Desa Tlogoweru, di antaranya dengan racun, perangkap, emposan, jaring hingga Peraturan Desa unik, yang mewajibkan setiap kepala keluarga harus membunuh tikus dengan jumlah dan kurun waktu tertentu.

Tak habis akal, penduduk desa yang pernah tercatat sebagai desa termiskin di Kabupaten Demak akhirnya mendapatkan cara baru. Soetedjo, yang kala itu baru menjabat sebagai Kepala Desa, berinisiatif membentuk tim peneliti untuk menemukan musuh alami dari hama tikus. “Saya sadar kesejahteraan warga adalah tanggung jawab saya, jadi saya harus mencari solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah utama dalam perekonomian desa ini,” ungkapnya.

Soedtedjo bersama timnya terus mencari informasi tentang penanganan hama tikus dari berbagai media informasi termasuk dengan berkunjung ke daerah-daerah lain yang memiliki permasalahan yang sama. “Dari Desa Munggur, Ngawi, Jawa Timur, akhirnya kami tahu predator alami tikus salah satunya berasal dari keluarga burung hantu, yaitu Tyto Alba,” ujar kepala desa yang dilantik tahun 2010 itu.

Tyto Alba

Soetedjo akhirnya menamai tim bentukannya dengan sebutan Tim Tyto Alba. Pasca itu, mereka mulai diikutkan ke dalam pelatihan guna mencermati wujud dan karakter Tyto Alba, yang pada akhirnya, perlahan tapi pasti dikembangbiakkan di Desa Tlogoweru. Pengamatan dan penelitian tersebut dijalani dalam kurun waktu lebih kurang 6 bulan.

Soal penangkaran, Soetedjo menjelaskan bahwa Tyto Alba dipelihara sedari kecil dan akan dilepaskan dari penangkaran saat usianya mencapai 4 bulan. Di usia tersebut, Tyto Alba sudah mahir dalam memburu tikus.  Ide penangkaran burung Tyto Alba pun akhirnya berbuah manis.

Tyto Alba: Predator Kebanggaan Tlogoweru

Sejak Juni 2011, masyarakat Tlogoweru mulai resmi merintis pembangunan bangunan karantina Tyto Alba. Bangunan karantina yang berukuran 6×12 meter tersebut merupakan pusat penangkaran burung hantu hasil swadaya masyarakat. Biaya untuk membangun bangunan karantina pun murni berasal dari iuran warga, yang setelah dikumpulkan berjumlah total RP 88 juta. Selain memiliki berbagai fungsi mulai dari penangkaran hingga perawatan burung hantu, bangunan ini juga menjadi sarana penelitian dan tempat melatih ketangkasan burung.

Menurut Soetedjo, hasil pertanian semakin meningkat hingga 100 persen. Tahun 2010, hasil panen desa hanya 9,2 ton dari target 23 ton per tahun, bahkan beberapa tahun sebelum Soetedjo menjabat, sebagai Kepala Desa Tlogoweru  pernah tidak bisa panen sama sekali karena hasil panennya habis dimakan tikus. Namun, kini hasil pertanian penduduk desa Tlogoweru meningkat. Di tahun 2012 hasil panen berupa padi dan jagung mencapai 21,85 ton. Tentu hal ini secara otomatis mendongkrak perekonomian Desa Tlogoweru.

Banyak petani, yang sebelumnya menggunakan metode lain, akhirnya beralih menggunakan burung Tyto Alba sebagai penyelamat hasil panennya. Hingga saat ini, terdapat ratusan burung Tyto Alba yang tersebar di tiap pelosok Desa Tlogoweru. Burung hantu Tyto Alba dapat kita temukan di pohon-pohon, gedung, bawah jembatan, hingga mushola desa. Demi memudahkan Tyto Alba menjangkau sasaran mangsanya, tim bentukan Soetedjo membuat Rubuha (rumah burung hantu) yang dibangun permanen di tengah persawahan warga.

Seekor Tyto Alba memiliki daya jelajah hingga 12 km setiap harinya. Daya penglihatan dan pendengarannya sangat tajam. Dengan kemampuannya tersebut, seekor Tyto Alba dapat menangkap dan memangsa 2-3 ekor tikus per harinya. Hasilnya, ungkap Soetedjo, berkat predator tersebut populasi tikus di desa Tlogoweru kini menjadi jauh berkurang.

Potongan cerita akhir yang manis  tersebut menjadi penutup penjelasan sang pemimpin desa tersebut soal kisah predator yang menjadi sahabat bidang pertanian Desa Tlogoweru.

Burung Tyto Alba bisa dibilang bukan hewan yang mudah putus asa. Sebab, mereka tidak akan meninggalkan kawasannya jika masih ada tikus. Menurut keterangan Jumari, pengelola penangkaran, burung ini juga termasuk burung yang rukun, tidak pernah dijumpai saling bunuh satu sama lain dalam berebut mangsa.

Berkat Tyto Alba, dalam kurun waktu kurang lebih 4 tahun, desa ini sudah banyak didatangi banyak turis lokal maupun internasional untuk mengetahui kisah desa dengan Tyto Alba-nya. Desa Tlogoweru bukanlah sekedar desa wisata yang biasa, Tlogoweru juga menyuguhkan wisata edukasi yang bisa menginspirasi desa-desa lain dalam menghadapi permasalahan yang sama dalam bidang pertanian.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top