Life

Belajar dari Lambang Hati yang Patah Menjadi Dua

Portal Berita

Sering melihat lambang hati yang patah menjadi dua? Biasanya lambang tersebut digambar dengan retakan di tengahnya, sebuah retak yang memisahkan satu hati menjadi dua. Kamu yang sedang merasakan sakit di hati, anggaplah retakan tersebut adalah sebuah kebimbangan yang memisahkan satu sisi hati dengan sisi lainnya. Karena, ya, di saat hati merasakan sakit, sesungguhnya selalu ada kebimbangan dimana satu sisi hatimu ingin begini, sisi lainya ingin tidak begini. Dimana kamu sedang dilema antara:

Ingin menikmati. Kadang kamu malah ingin tetap memelihara lukamu, ingin menikmati perasaanmu yang sakit. Terpuruk. Merasa menjadi seorang yang paling lebar lukanya, paling tersakiti. Memang nikmat mengenang sesuatu yang telah pergi. Ada kenangan berbaur harapan ingin kembali di sana. Menangis terus-menerus pun merupakan salah satu cara terampuh melepaskan sesak akibat hati yang sakit. Meski leganya hanya dalam waktu singkat. Karena selanjutnya sesak itu akan terulang, karena kamu begitu menikmati.

Atau melupakan. Karena di dalam hidup yang terus berjalan ini rasa sakit akan selalu ada, maka melupakan sebuah rasa sakit yang sekarang sesungguhnya adalah cara terbaik. Lupakan, semoga hatimu banyak belajar tentang keikhlasan. Lupakan dan bergembiralah melangkah dengan hati yang lebih ringan, dengan sesak yang sudah berkurang sebab hatimu sudah sembuh. Kelak, jika terjadi lagi sesuatu menggores hatimu, lupakanlah lagi. Cara kehidupan mengajarkanmu agar menjadi kuat memang seperti itu.

Ingin membenci. Hati yang merasakan sakit, sangat besar kemungkinannya untuk membenci. Entah membenci suatu keadaan atau seseorang yang telah menyebabkan rasa sakit tersebut. Keadaan ini sulit membuatmu tenang. Kamu selalu berusaha mencari sesuatu untuk disalahkan. Selalu kamu ingin sesuatu itu ‘bertanggung jawab’ atas sakit yang kamu alami. Kebencian ini tidak berujung hingga ada yang mau menanggung atau paling tidak meminta maaf telah menjadi sebab perasaanmu menjadi sakit. Sayangnya, tidak ada suatu keadaan atau seorang pun yang mau jujur mengakui telah berbuat salah pada hatimu. Meski ada yang meminta maaf, itupun tidak akan kamu terima, sebenarnya. Akuilah. Walau sedikit, membenci telah membuatmu tidak mau lagi membuka hati untuk sesuatu atau seseorang tersebut.

Atau mengambil pelajaran. Jika kamu mampu berpikiran terbuka maka sesungguhnya selalu ada keadaan di mana kamu tersadar, bahwa semua hal, semua masalah bahkan rasa sakit, ada sisi baik dan buruknya. Bahkan rasa sakit yang kini kamu alami, kelak akan menjadi perisai bagi dirimu sendiri untuk tidak lagi merasakan sakit yang serupa. Hati yang sakit akan membuatmu tahu, mana yang baik untuk dilakukan mana yang berpotensi menyebabkan kesakitan lagi. Sakit adalah belajar. Ada manfaatnya untukmu, bukan hanya di saat ini tapi juga di langkah hidupmu selanjutnya.

Maka, pilihlah mana potongan hati yang lebih baik. Apakah sebuah sisi yang memiliki kebencian dan luka permanen di dalamnya, atau yang lebih menenangkan, sebuah sisi yang memilih melupakan dan terus melanjutkan hidup dengan belajar dari pengalaman.

Pilihlah, karena hidup adalah pilihan. Kamu ingin merasakan sakit hati atau tidak, bahkan itu adalah sebuah pilihan. Pilihlah untuk tidak terlalu menaruh hati pada sesuatu atau seseorang, karena kamu tidak akan tahu bagaimana bentuk hati itu sekembalinya padamu.

Jagalah satu-satunya hati yang kamu miliki itu. Jadikan hatimu kokoh. Jadikan hatimu kuat hingga tidak akan ada lagi yang mampu membuat retak hatimu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top